Rintangan Anak Sekolah Semakin Berat

12/21/2013
broken-college-desks-hard-photography-school-Favim.com-41171

Gambar: Favim

Hidup ini penuh dengan perubahan.

Cuaca berubah-ubah. Power Rangers berubah. Pacar yang diputusin karena bosen dibilangnya “kamu berubah.” Mau nggak mau, kita harus menerima perubahan-perubahan. Nggak semua orang suka perubahan.

Perubahan itu sama kayak kejutan. Memang ada elemen kejutan dalam suatu perubahan, khususnya buat mereka yang nggak punya persiapan. Dan seperti yang gue tulis sebelumnya, orang suka kejutan (atau dalam kasus ini perubahan) cuma kalau perubahan itu positif. Kalau negatif, ya nggak suka. Memang manusia itu penginnya enak sendiri.

Pagi ini, ketika gue lagi Twitter-an, ada beberapa mention yang masuk minta didoain nilai rapotnya biar bagus.

Pertama, iya, gue tau yang bener itu tulisannya “rapor,” bukan “rapot,” tapi udah kepalang enak bilangnya rapot jadi kita lanjutin pake “rapot” aja.

Kedua, gue bukan ‘orang pinter’ yang bisa doain nilai rapot kamu jadi mendadak bagus kalau kamu nggak belajar pas ujian kemaren. Tapi, berhubung doa orang yang teraniaya itu dikabulkan, yaudah gue doain. Kesimpulan: Kalau ada yang minta doain ke lo, bukan berarti lo dianggap ‘orang pintar,’ bisa aja karena lo dianggap orang teraniaya. Terima kasih, followers-ku yang baik.

Lanjut. Gara-gara mention yang masuk tadi gue jadi dapet ide ngetwit tentang rapot gitu.

Terus ada yang mention gue kayak gini…

Ini menarik. Gue jadi cari tau kan. Ternyata, untuk kurikulum baru 2013 ini, banyak hal yang berubah tentang sekolah, yang membuat sekolah sekarang makin mirip kuliah. Dunia sekolah udah nggak kayak dulu lagi. Bakalan gue jabarin beberapa poin perubahan hasil gue cari tau dan berasal dari mention temen-temen yang masuk.

Sekarang, nilai rapot anak sekolah ditulisnya nggak warna-warna lagi, tapi pake tinta item semua. Menurut gue, ini adalah kemunduran. Ke mana kreativitas guru-guru jaman dulu? Gara-gara hilangnya warna merah di rapot, kehidupan anak sekolah jadi semakin nggak berwarna. Lebih suram.

Terus nilai-nilai di rapot kini nggak lagi ditulis pake angka skala 1-100, atau 1-10, tetapi pake huruf A-D, kayak nilai UTS dan UAS anak kuliah. Terus nilainya juga ada yang pake angka 1-4, mirip IP gitu. Gue rasa, makin lama sekolah jadi makin kayak kuliah, lama-lama bisa ada skripsi nih.

Setelah gue ngetwit itu, ternyata memang benar! Beberapa anak sekolah yang nggak beruntung udah merasakan ‘skripsi’ di sekolahnya, yaitu dalam bentuk jurnal, karya tulis, atau makalah sebagai tugas akhir. Daaaan, mirip banget sama skripsi karena penuh dengan revisi. Sekali lagi, REVISI! Huahahahaha…

Di beberapa sekolah memang ada yang belum nerapin sih. Tapi kayaknya bentar lagi bakalan diterapin tuh di semua sekolah. Brace yourself!

44059759

Anak-anak sekolah jaman sekarang jadi kayak anak kuliah emang, masuk pagi pulang sore, sore banget. Nyampe rumah bukannya istirahat, diharuskan ngerjain tugas yang membelah diri lebih cepat dibanding amoeba, dan tugasnya menganut pepatah “kelar satu datang seribu.”

Kasian ya, masih kecil udah dihadapkan dengan revisi bertubi-tubi. Bisa jadi, ini semua balas dendam anak-anak kuliahan yang udah diterjang revisi bertubi-tubi dan akhirnya lulus terus masuk ke dinas pendidikan, dan pengin semua anak sekolah merasakan penderitaan anak kuliah.

Negatifnya, semua anak sekolah belum tentu siap dengan ini kalau terlalu mendadak. Kata anak sekolah pasti kayak gini,

Maaf, tapi menurut aku ini kecepetan.

Positifnya, standar pendidikan di Indonesia bakalan naik, dan semoga kualitas lulusan sekolah di Indonesia jadi makin keren. Positif lainnya, anak sekolah jadi akan terbiasa ketika nanti masuk kuliah, kan udah sering kena revisi. Jadinya, kalau udah biasa ngerjain skripsi sih harusnya nanti pas ngerjain skripsi beneran cepet selesai, nggak kayak yang skripsinya nggak kelar-kelar. *digebukin mahasiswa angkatan lama*

Pesan gue adalah, silakan mengeluh. Jujur, waktu gue sekolah gue selalu mengeluhkan apa pun tugas yang dikasih. Gue rasa, semua anak sekolah di belahan dunia manapun pasti sering ngeluh.

Tapi mengeluhlah sambil ngerjain. Jadi ketika ngeluhnya selesai, tugasnya juga.

Semangat terus buat temen-temen yang masih sekolah! Kalian pasti bisa! Kalau nggak bisa, lambaikan tangan aja ke kamera.

Menurut kamu, gimana nih kurikulum baru yang udah dan akan diterapin? Terlalu nyiksa nggak? Atau malah kurang nyiksa? Silakan curhat di kolom comments.

 

–

Update:

Ada sedikit masukan dari sudut pandang pengajar (terima kasih, Bu Guru Sara Putri). Berikut kutipannya…

Semua perangkat kurikulum 2013 memang yang bikin dari diknas semua, tapi jangan salah, materi yang ada semakin berat. FYI, aku ngajar matematika SMK. Matematika SMK sekarang disetarain sama anak SMA, padahal secara kemampuan, anak SMK dan SMA itu jauh beda, karena fokus mereka juga beda, SMK dipersiapkan lulus langsung kerja. Materi matematika anak SMK yang tadinya setahun cuma 4 bab, sekarang setahun jadi 12 bab, padahal kemampuan input (murid) sama dengan tahun lalu tapi guru dapat tantangan gimana caranya bisa menghasilkan output anak SMK yang menguasai 12 materi setara anak SMA.

Masalah penilaian juga, semakin banyak kriterianya, nggak sekadar nilai ulangan, ada nilai sikap, nilai proyek, dan nilai tugas. Tugasnya pun ada nilai praktik. Matematika praktik apa coba? :(

FYI juga, rapot kurikulum 2013 lebih tebel dibanding rapot kurikulum sebelumnya. Kami guru pun belum dapat kepastian dari diknas, yang katanya perangkat pembelajaran disediakan pemerintah, nyatanya sampai satu semester berjalan perangkat yang dijanjikan tersebut belum nampak wujudnya.